WELCOOM

Senin, 20 Mei 2013

pembelajaran Kooperatif



Metode Pembelajaran Spesialisasi Tugas
Dan Mitos Belajar Kooperatif

A.    PENDAHULUAN

Spesialisasi tugas menyelesaikan masalah tanggung jawab individual dengan membuat tiap siswa memiliki tanggung jawab khusus terhadap kontribusinya sendiri terhadap kelompok, artinya bahwa setiap siswa betanggung jawab atas sebagian dari keseluruhan tugas. Metode spesialisasi tugas menekankan kepada suatu kemampuan untuk menguasai materi pelajaran secara kontiniu dan berkelanjutan dengan demikian kontribusi pemikiran setip anggota kelompok berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok tersebut. (Cohen, 1986).



Menurut Slavin  pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok -kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru. Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain.




B.     PEMBAHASAN
1.      Metode pembelajaran Spesialisasi tugas
A.    Group Investigasi (Kelompok Investigasi)
1.      Dasar Pemikiran
Group investigasi memiliki akar filosofis, etis, psikologi penulisan sejak awal tahun abad ini. Diantara tokoh yang tekemuka dan berorientasi pada pendidikan adalah John Dewey. Pandangan Dewey terhap kooperasi dalam kelas sebagai sebuah prasyarat unutk bisa menghadapi berbagai maslah kehidupan yang komplek dalam masyarakat demokrasi.
Untuk mengimplementasikan dasar pemikiran diatas maka:
·         Menguasai kemampuan kelompok,
·         Perencanaan kooperatif,
·         Peran guru,
2.      Implementasi
Dalam kelompok investigasi, ada enam langkah yang harus dilakukan guru dalam mengimplementasikan kelompok investigasi yaitu:
a.      Mengidentifikasi topik dan mengatur murid kedalam kelompok.
b.      Merencanakan tugas yang akan dipelajari
c.       Melaksanakan investigasi
d.      Menyediakan laporan akhir
e.       Mempresentasikan laporan akhir
f.        Evaluasi
B.     METODE CO-OP CO-OP
Co-Op Co-Op hampir sama dengan kelompok investigasi. Metode ini menempatkan kelompok dalam kerja sama antara satu sama lain untuk mempelajari suatu topik di kelas. Metode ini memberikan kesempatan siswa untuk bekerja bersama-sama di dalam kelompok-kelompok kecil. Untuk menguji pemahaman mereka tentang pelajaran yang telah dipelajari maka diberikan kesempatan untuk berbagi pemahaman baru atau dengan teman sebaya.
Ketika guru memahami filosofi Co-Op Co-Op maka dia dapat memilih beberapa cara untuk mengaplikasikan pendekatan yang akan digunakan di dalam kelas.
Untuk itu ada 9 langkah dalam peningkatan kemampuan dalam metode ini.
A.    Diskusi Kelas terpusat pada siswa
Mendorong para siswa untuk menemukan dan mengekspresikan ketertarikan mereka sendiri terhadap subyek yang akan dipelajari lalu lakukan diskusi kelas yang terpusat pada siswa.
Tujuan dari diskusi ini haruslah dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran unit pelajaran dengan membuka dan memancing rasa ingin tahu mereka, diskusi harus mengarah pada sebuah pemahaman di antara guru dan semua siswa mengenai apa yang akan dipelajari dan dialami oleh para siswa sehubungan dengan topic yang akan dicakupi.
B.     Menyeleksi Tim Pembelajaran Siswa dan Pembentukan Tim.
Apabila para siswa belum memulai bekerja dalam tim, aturlah mereka ke dalam tim heterogen yang terdiri dari empat sampai lima anggota seperti dalam STAD. Para siswa perlu memiliki kelompok kerja dengan kemampuan yang baik dan kepercayaan yang terbangun sebelum memulai co-op co-op.
C.     Seleksi Topik Tim
Biarkan siswa memilih topic untuk topic tim mereka terlebih dahulu, apabila topic tim tidak langsung diikuti dengan diskusi kelas berpusat pada siswa. Doronglah siswa untuk mendiskusikan berbagai macam topic di antara mereka sendiri supaya mereka dapat memastikan topic yang paling banyak menarik perhatian anggota tim mereka.
Guru bisa memfasilitasi kesatuan kelas dengan menunjukan bagaimana tiap topic tersebut dapat memberikan kontribusi penting kepada tujuan kelas, yaitu menguasai unit pelajaran yang sedang dipelajari.
D.    Pemilihan Topik Kecil
Tiap tim membagi topiknya untuk membuat pembagian tugas di antara anggota tim, tiap siswa memilih topic kecil yang mencakup satu aspek dari topic tim. Topic kecil ini mungkin saja tumpang tindih, dan anggota tim di dorong untuk saling berbagi referensi dan bahan pelajaran, tetapi tip topic kecil harus memberikan kontribusi yang unik bagi usaha tim.
E.     Persiapan Topik Kecil
Setiap siswa bertanggung jawab terhadap topic kecil mereka dan bahwa kelompok tersebut tergantung pada mereka untuk menemukan aspek penting dari usaha yang dilakukan tim.
Persiapan tim bisa saja melibatkan penelitian kepustakaanm, pengumpulan data melalui wawancara atau eksperimen, mencipatakan proyek individual, atau sebuah kegiatan ekspresif seperti menulis atau melukis.
Kegiatan-kegiatan ini dilakukan dalam ketertarikan yang semakin kuat karena para siswa tahu mereka akan membagi hasil karyanya dengan teman satu timnya dan bahwa hasil kerja mereka akan memberikan kontribusi terhadap presentasi tim.
F.     Presentasi Topik Kecil
Setelah para siswa menyelesaikan kerja individual mereka mempresentasikan topic kecil mereka kepada teman satu timnya. Presentasi topic kecil di dalam tim haruslah bersifat formal. Yaitu tiap anggota tim diberikan waktu khusus, dan berdiri ketika mempresentasikan topic kecilnya.
Presentasi dan diskusi kelompok kecil di dalam tim dilakukan dengan cara yang dapat membuat semua teman satu tim memperoleh semua pengetahuan dan pengalaman yang dilakukan oleh masing-masing anggota tim. Selama presentasi kelompok kecil, pembagian tugas di dalam tim bisa di dorong supaya ada satu anggota tim yang mencatat, yang lainnya mengkritik, yang lain lagi memberi dukungan, dan yang lain lagi memeriksa poin-poin yang meencapai titik dari informasi yang dipresentasikan.
G.    Persiapan presentasi tim
Para siswa didorong untuk memadukan semua topic kecil dalam presentasi tim. Di sana harus ada sintesis aktif dari topik-topik kecil tersebut supaya selama diskusi tim presentasi tim akan menjadi lebih dari sekedar sekumpulan presentasi topic kecil.
Diskusi mengenai bentuk presentasi tim harus mengikuti sintesis materi topic kecil. Bentuk presentasi tersebut haruslah ditentukan berdasarkan konten materinya. Misalnya bila sebuah kelompok tidak dapat mencapai kesepakatannya, maka bentuk ideal presentasi mereka adalah mempresentasikan debat kehadapan kelas.
H.    Presentasi tim
Dalam presentasi tim, mereka boleh saja memasukkan sebuah periode Tanya-jawab atau waktu untuk memberikan komentar dan umpan balik. Sebagai tambahan, mengikuti presentasi tersebut guru mungkin akan merasa perlu memimpin sesi atau mewawancara tim supaya tim lainnya dapat mempelajari sesuatu mengenai apa yang terlibat dalam pembangunan presentasi tersebut.
Biasanya tim yang sukses akan dipandang sebagai model. Selama sesi wawancara
I.         Evaluasi
Evaluasi dilakukan dalam 3 tingkatan:
1.      Pada saat presentasi tim dievaluasi oleh kelas
2.      Kontribusi individual terhadap usaha tim dievaluasi oleh teman satu timnya.
3.      Pengulangan kembali materi atau presentasi topic kecil oleh tiap siswa dievaluasi oleh sesama siswa.

2.      Mitos Belajar
Menurut Slavin  pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok -kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk memahami konsep yang difasilitasi oleh guru.
Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan setting kelompok-kelompok kecil dengan memperhatikan keberagaman anggota kelompok sebagai wadah siswa bekerjasama dan memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan teman sebayanya, memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan dan ia menjadi narasumber bagi teman yang lain.
Model pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri:
1) untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar  dalam kelompok secara kooperatif,
2) kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah,
3) jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam tiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula
4) penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan.
Dalam pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan bersama. Menurut Ibrahim dkk.  siswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika siswa lainnya juga mencapai tujuan tersebut.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting. Menurut Depdiknas tujuan pertama pembelajaran kooperatif, yaitu meningkatkan hasil akademik, dengan meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademiknya. Siswa yang lebih mampu akan menjadi nara sumber bagi siswa yang kurang mampu, yang memiliki orientasi dan bahasa yang sama.
Sedangkan tujuan yang kedua, pembelajaran kooperatif memberi peluang agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai perbedaan latar belajar. Perbedaan tersebut antara lain perbedaan suku, agama, kemampuan akademik, dan tingkat sosial.
Tujuan penting ketiga dari pembelajaran kooperatif ialah  untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud antara lain, berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat,
Menurut Ibrahim, dkk. pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif untuk siswa yang hasil belajarnya rendah sehingga mampu memberikan peningkatan hasil belajar yang signifikan. Cooper mengungkapkan keuntungan dari metode pembelajaran kooperatif, antara lain: 1) siswa mempunyai tanggung jawab dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran, 2) siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, 3) meningkatkan ingatan siswa, dan 4) meningkatkan kepuasan siswa terhadap materi pembelajaran.
Menurut Ibrahim, unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
1) siswa dalam kelompok haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama
2) siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu didalam kelompoknya
3) siswa haruslah melihat bahwa semua anggota didalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama
4) siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya
5) siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok
6) siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya
7) siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara  individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar